PRABUMULIH, Lembayungnews — Pemadaman listrik selama belasan jam di RSUD Prabumulih pada Senin (16/2/2026) bukan sekadar gangguan teknis biasa.
Insiden yang terjadi saat hujan deras mengguyur kota itu dinilai masyarakat sebagai kejadian luar biasa yang menguji kesiapan manajemen rumah sakit dalam menjamin keselamatan pasien.
Di tengah jam pelayanan aktif, listrik tiba-tiba padam. Kepanikan tak terhindarkan, terutama di ruang perawatan intensif. Keluarga pasien resah, khawatir alat medis vital ikut terganggu.
“Sempat panik karena lampu mati cukup lama. Kami khawatir kalau alat medis ikut terganggu,” ujar salah satu keluarga pasien yang meminta namanya dirahasiakan.
ICU Dirujuk, Layanan Terhenti
Dalam sistem rumah sakit modern, listrik adalah urat nadi. ICU, ruang operasi, ruang hemodialisa, hingga penyimpanan vaksin sepenuhnya bergantung pada pasokan daya yang stabil.
Akibat gangguan tersebut, Pasien ICU dirujuk ke rumah sakit lain atas persetujuan keluarga. Layanan hemodialisa sesi lanjutan dihentikan sementara.
UGD tetap siaga, namun kasus emergency yang membutuhkan ICU tidak dapat dilayani optimal.
Direktur RSUD, dr. Ade Nur Ichlas, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan gangguan diduga berasal dari panel Automatic Circuit Breaker (ACB) internal yang kemungkinan pernah terdampak sambaran petir sebelumnya, Jumat, 20/2/2026.
“Saat listrik dinyalakan kembali, sistem otomatisnya langsung turun,” jelasnya.
Namun publik mempertanyakan, mengapa panel vital yang diduga pernah terdampak petir tidak segera dilakukan audit menyeluruh sebelumnya?
Genset Tak Siap, PLN Turun Tangan
Manajemen RSUD sempat meminta bantuan genset besar ke PLN ULP Prabumulih.
Manager PLN ULP Prabumulih, Iksan Rahmadi, mengungkapkan bahwa genset besar milik PLN saat itu sedang dipinjam untuk kegiatan kunjungan Kapolri di Palembang.
“Direktur RSUD menghubungi kami meminta bantu genset besar, tapi genset kami sedang digunakan di Palembang. Kami tetap kirim petugas untuk membantu mencari titik gangguan,” ujarnya.
Fakta bahwa rumah sakit rujukan milik pemerintah daerah harus bergantung pada genset eksternal memunculkan pertanyaan serius: Apakah sistem cadangan listrik internal RSUD benar-benar siap untuk kondisi darurat?
Belasan Jam Tanpa Listrik: Alarm Serius
Beredar informasi pemadaman berlangsung hingga sekitar 13 jam. Meski pihak rumah sakit menyatakan tidak ada pasien kritis yang menggunakan ventilator saat kejadian, publik menilai hal itu lebih sebagai faktor keberuntungan ketimbang kesiapan sistem.
Dalam standar pelayanan kesehatan, fasilitas seperti rumah sakit daerah wajib memiliki Genset dengan kapasitas memadai
Sistem UPS tanpa jeda (zero delay)
Audit berkala instalasi kelistrikan
Protokol darurat yang teruji Jika listrik padam hingga belasan jam, itu bukan lagi gangguan kecil. Itu adalah alarm keras bagi manajemen.
Vaksin dan Obat Dipastikan Aman, Tapi Publik Tetap Menuntut Transparansi
Manajemen RSUD memastikan vaksin dan obat-obatan tetap aman karena dipindahkan ke penyimpanan alternatif dengan pemantauan suhu rutin setiap jam.
“Tidak ada vaksin atau obat yang rusak,” tegas dr. Ade.
Meski demikian, masyarakat meminta klarifikasi lebih terbuka, termasuk laporan teknis resmi terkait penyebab pasti kerusakan ACB, Riwayat perawatan panel listrik, Evaluasi sistem proteksi petir,
Rencana peningkatan sistem cadangan daya.
Momentum Evaluasi Total
Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa rumah sakit tidak boleh hanya mengandalkan faktor keberuntungan. Dalam dunia medis, satu menit tanpa listrik bisa menentukan hidup dan mati.
Sebagai fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah, RSUD Prabumulih memikul tanggung jawab moral dan profesional untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Masyarakat kini menunggu langkah konkret: Audit independen sistem kelistrikan Modernisasi genset dan UPS. Transparansi hasil evaluasi. Penguatan manajemen risiko bencana.
Karena ketika listrik padam belasan jam di rumah sakit, yang dipertaruhkan bukan sekadar pelayanan — melainkan nyawa manusia. (Raif).
Editor: Rasman Ifhandi












