PHR Zona 4 Terapkan Inovasi Batch Drilling: Efisiensi Operasi Migas, Ramah Lingkungan, dan Jadi Tonggak Sejarah Nasional

  • Bagikan
Listen to this article

Teknologi pengeboran baru ini bukan hanya efisien, tapi juga menandai transformasi budaya kerja dan keberlanjutan lingkungan di sektor hulu migas.

PRABUMULIH, LEMBAYUNGNEWS – Di tengah gemuruh mesin dan riuh koordinasi di Lapangan Benuang,, tampak semangat baru dari para pekerja Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4. Mereka tengah menorehkan sejarah: untuk pertama kalinya di Indonesia, teknik Batch Drilling Onshore diterapkan, sebuah inovasi yang membuat proses pengeboran minyak dan gas menjadi jauh lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan.

Efisiensi Tinggi, Dampak Langsung

Dengan mengandalkan Rig PDSI #41.3/N110UE, PHR Zona 4 sukses menyelesaikan empat dari lima sumur dalam proyek Batch Drilling Benuang — yakni sumur BNG-D16, BNG-D3, BNG-23T, BNG-D4, dan BNG-37T. Hingga awal Oktober 2025, empat sumur telah tuntas, sementara satu lainnya masih beroperasi.

Metode ini terbukti memangkas waktu operasi hingga 66 hari dan menghemat biaya pengeboran sekitar 15 persen atau setara USD 4,938 juta. Hasilnya pun langsung terasa: sejak 2 September 2025, produksi mencapai 3.388 barel per hari (BOPD), jauh melampaui target awal 1.200 BOPD.

Inovasi ini tidak hanya mengubah cara kerja, tapi juga mempertegas posisi PHR sebagai pelopor efisiensi di industri hulu migas nasional.

Namun, di balik kemajuan itu, tantangan tetap ada. “Inovasi seperti batch drilling memang meningkatkan produktivitas, tapi tetap harus diawasi ketat,” pesan Dr. Aditya Rahman, pengamat energi dari Universitas Sriwijaya. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan energi tidak cukup hanya dengan efisiensi, tapi juga dengan komitmen moral menjaga keselamatan manusia dan lingkungan.

Dalam metode batch drilling, satu rig digunakan untuk mengebor beberapa sumur secara bergantian. Rig ini dipasang di atas rel atau landasan geser (skid), sehingga dapat berpindah ke posisi sumur berikutnya tanpa perlu membongkar seluruh rangkaian pipa bor. Tahapan pengerjaan dimulai dari pengeboran lapisan permukaan di satu sumur, lalu rig digeser ke sumur lainnya untuk melakukan proses serupa dengan menggunakan lumpur pengeboran yang sama. Setelah semua sumur selesai di bagian permukaan, rig kembali untuk melanjutkan pengeboran di bagian tengah, kemudian ke tahap lateral secara berurutan.

Perpindahan rig dilakukan menggunakan sistem hidrolik, bukan dengan kendaraan penarik. Cara ini mampu memangkas sejumlah langkah operasional dan menciptakan efisiensi tinggi. Dengan tidak perlu membongkar dan merakit ulang rig di setiap titik pengeboran, waktu serta biaya dapat dihemat secara signifikan. Teknik ini menunjukkan hasil paling optimal ketika diterapkan pada tiga sumur atau lebih, sementara untuk satu atau dua sumur saja, penghematan yang dihasilkan tidak terlalu besar.

Selain memberikan efisiensi, metode ini juga meningkatkan konsistensi dan keterampilan tim pengeboran. Karena kru berfokus pada satu tahap pekerjaan yang sama secara berulang, mereka menjadi lebih terlatih dan cepat tanpa harus sering beradaptasi dengan tahap berbeda. Pola kerja yang sistematis turut membuat peralatan lebih tertata, sementara keahlian dan produktivitas pekerja meningkat seiring pengalaman yang bertambah.

Transformasi Budaya dan Pengalaman Baru

Bagi Taufiqur Rohman, HSE Supervisor yang telah 13 tahun berkecimpung di dunia pengeboran, Batch Drilling adalah pengalaman yang benar-benar baru.

“Saya sudah lama di HSE, tapi baru kali ini terlibat dalam batch drilling. Sebelumnya kami menjalani banyak pelatihan dan pembekalan sebelum diterapkan di lapangan,” ujarnya dengan nada bangga.

Menurutnya, peralatan dalam sistem Batch Drilling lebih kompleks dibandingkan rig konvensional.

“Dari sisi keselamatan, prinsipnya sama. Tapi karena durasi operasi lebih panjang dan peralatannya lebih banyak bergerak, kami harus benar-benar disiplin dan saling bekerja sama,” jelasnya.

Ia juga menambahkan pentingnya pelatihan darurat dan koordinasi lintas kru.

“Kami rutin latihan tanggap darurat agar seluruh tim siap menghadapi situasi apa pun,” imbuhnya.

Desain Sumur dan Tonggak Baru Zona-4

Area Benuang sendiri dikelilingi oleh lapangan produktif seperti Limau, Gunung Kemala, dan Raja, menjadikannya kawasan strategis dalam pengembangan migas darat di Sumatra Selatan. Momentum ini menjadi salah satu milestone penting dalam proyek Batch Drilling Milestone Zona-4.

Ernez Febrian, Drilling Superintendent Zona 4, menceritakan awal mula inisiatif proyek tersebut.

“Awalnya, kami menginisiasi proyek ini sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya pada Februari 2023. Proyek ini merupakan hasil inisiasi dari tim kami setelah melihat adanya potensi besar yang bisa dikembangkan,” ujarnya, saat memberikan paparan kepada segenap awak media baik nasional maupun lokal di lokasi cluster Benuang PALI, Rabu 8/10/2025.

Tahapan proyek dimulai pada awal 2023 dengan proses function dan time-of-visit location, sebagai langkah persiapan untuk menentukan lokasi dan fungsi sumur yang akan dikembangkan. Selanjutnya, pada Mei hingga Juli 2023, tim Drilling DWI 264 melaksanakan perancangan sumur (well design) untuk menentukan spesifikasi teknis yang paling tepat bagi pelaksanaan proyek.

Memasuki Januari hingga Juli 2024, proyek memasuki fase persiapan (preparation phase) yang meliputi start FID, akuisisi data, re-kontrak tim, serta penyusunan dokumen pendukung lainnya. Tahapan berikutnya berlangsung Agustus hingga Oktober 2024, dengan kegiatan pre-WPFB, PLK SKK Migas, penandatanganan kontruksi, serta uji coba yang mencapai sekitar 70 persen penyelesaian.

Kemudian, pada Oktober 2024, dilakukan kegiatan DWOP (Drilling Well On Paper) serta pre-spot meeting bersama seluruh mitra service company yang terlibat dalam proyek tersebut.

Akhirnya, pada April 2025, proyek Batch Drilling resmi dimulai. Hingga Oktober 2025, dari lima sumur yang direncanakan, empat sumur telah berhasil diselesaikan, dan satu sumur terakhir kini sedang dalam tahap penyelesaian dan produksi.

Dalam pemaparannya, pihak PHR Zona 4 menjelaskan bahwa setiap sumur memiliki karakteristik dan tipe desain yang berbeda, menyesuaikan dengan kondisi bawah permukaan dan koordinat subsurface yang ditentukan tim SSDP untuk menghindari potensi anti-collision antar sumur.

Adapun rata-rata biaya pengeboran untuk setiap sumur mencapai USD 6,5 juta, dengan seluruh anggaran telah mendapatkan persetujuan resmi dari pemerintah melalui SKTM.

Langkah terencana dan sistematis ini menjadi bukti keseriusan PHR dalam menjalankan proyek pengeboran yang efisien, aman, serta berorientasi pada hasil maksimal bagi keberlanjutan energi nasional.

“Di darat, tidak semua rig memiliki kemampuan ini. Bahkan di Indonesia, jumlah rig yang bisa melakukan walking rig bisa dihitung dengan jari. Saat ini, PDSI sendiri memiliki tiga rig konsorsium yang memiliki teknologi tersebut. Alhamdulillah, kami di Zona-4 mendapatkan kesempatan menjalankan proyek ini menggunakan Rig PDSI 41.3 sejak awal 2023,” jelasnya.

“Jarak antar titik sekitar lima meter. Yang bergerak hanya menara dan substructure, sementara peralatan statis tetap di tempat. Semua sudah diperhitungkan agar aman dan efektif,” tambahnya.

“Sekarang kami tidak lagi menunggu satu sumur selesai baru pindah. Semua bisa dikerjakan paralel, lebih cepat dan efisien,” ujar Ernezt Febrian,  Ia tersenyum, bangga sekaligus lega. Baginya, ini bukan hanya pekerjaan, ini bentuk tanggung jawab terhadap negeri.

Komitmen dan Harapan Energi Nasional

Muhammad Luthfi Ferdiansyah, Senior Manager Prabumulih Field, menegaskan bahwa Batch Drilling menjadi bukti komitmen PHR dalam menghadirkan inovasi berkelanjutan.

“Dalam dunia industri yang dinamis, kami akan terus melakukan improvement dan inovasi berkelanjutan, Inovasi ini membuktikan bahwa peningkatan produksi bisa berjalan seiring dengan keselamatan kerja dan keberlanjutan lingkungan.” ungkapnya.

Langkah ini juga menjadi bagian dari dukungan PHR terhadap program pemerintah menuju swasembada energi nasional, dengan mengedepankan efisiensi, keselamatan, dan tanggung jawab lingkungan.

Dari PHR Zona-4 untuk Indonesia

Sore itu, di bawah langit jingga area Benuang PALI, deru mesin pengeboran terus terdengar di kejauhan. Di antara para kru yang bekerja, tampak kebanggaan tersirat di wajah mereka kebanggaan, karena menjadi bagian dari sejarah baru industri migas Indonesia.

Langkah yang diambil ini berdampak besar. Warga yang dulu khawatir akan pencemaran kini mulai percaya. Hubungan antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah daerah terjalin erat dalam satu komitmen: memastikan industri energi berjalan tanpa merusak kehidupan di sekitarnya.

Tak hanya soal produksi minyak, keberhasilan batch drilling membawa napas baru bagi ekonomi lokal.
“Sekarang banyak warga sekitar yang ikut terlibat, dari katering, transportasi, hingga logistik,” tutur Ernezt. Bagi mereka, rig bukan lagi simbol industri berat yang jauh dari rakyat, melainkan sumber penghidupan dan kebanggaan.

Batch Drilling bukan sekadar teknologi, melainkan simbol perubahan. Dari efisiensi menuju keberlanjutan. Dari Adera Field dan Prabumulih Field untuk Indonesia.

(Raif)
Editor: Rasman Ifhandi

No votes yet.
Please wait...
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *