Di Antara Sakit, Doa, dan Kata-Kata yang Tak Pernah Mati Sebagai Seorang Jurnalis

  • Bagikan
Listen to this article

PRABUMULIH, LEMBAYUNGNEWS–Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Dinas Kominfo dan PWI Kota Prabumulih tahun ini menjadi semacam batu loncatan dalam hidupku, sebuah tanda bahwa perjalanan panjangku sebagai jurnalis masih terus berlanjut.

Dari 11 mata uji yang menanti untuk ditaklukkan, setiap lembar soal seperti bayang-bayang yang menuntut keberanian. Ada getar halus di dadaku, semacam gugup yang tak tampak, namun jelas terasa.

Drs. Sihono HT, MSi berdiri di depan meja petak tempat kami duduk seperti penjaga gerbang ilmu. Tatapannya tenang, tetapi menusuk.
“Tetap tenang. Fokus. Waktu kita sedikit. Dua hari saja…” katanya pelan, namun cukup menggema di hati kami.

Laptop Acer tua yang menemaniku sejak bertahun-tahun lalu kupandang seperti kawan seperjuangan. Layarnya yang temaram serasa berkata: “Ayo, kita masih bisa.”

Ponsel Samsung A33 5G yang telah kuisi penuh sejak malam sebelumnya, dua power bank, charger, semuanya kusiapkan seperti prajurit menyiapkan senjata. Hari itu, tak boleh ada yang lalai.

Kelas Madya, hanya satu kelas tahun ini. Enam orang, termasuk aku, duduk dalam satu barisan yang sunyi. Birji berbisik lirih, suara yang nyaris tenggelam dalam detak jantungku, “Wah, saya gak kenal kak sama penguji ini… serius betul rasanya.”
Aku hanya tersenyum kecil, menahan gemuruh yang sama.

Di meja yang lain, di kelas Muda dan Utama rekan-rekan seprofesiku juga terlihat sibuk dengan soal yang sudah diberikan, ada yang menutupi kecemasan dengan bercanda, ada yang terlihat serius, ada yang tampak tenang dan sesekali melihat ke langit-langit ruangan yang penuh sesak namun dingin menusuk pori-pori.

Rekan-rekan dari dinas Komunikasi dan Informatika, juga tak kalah sibuknya sebagai panitia kegiatan UKW tahun ini. Kopi hangat tersedia di meja belakang berikut makanan khas Sumatera Selatan, Pempek, juga disiapkan untuk semua peserta dan para tamu undangan.

Pagi itu hening terasa seperti doa. Meja petak di aula Fave Hotel kota Prabumulih, menjadi tempat kami menorehkan harapan dan kekhawatiran. Aku sudah menyiapkan obat-obatan di dalam tas, berjaga-jaga bila sakit kepala menyerang. Stroke yang kutanggung enam bulan ini sering datang tanpa permisi, mencuri fokus dan ketegaranku. Namun langkahku hari itu terlalu penting untuk ditunda oleh rasa sakit.

Sebelum berangkat, istriku menyuguhkan telur rebus dan kopi pahit. Aroma kopi menggantung di udara, menenangkan seperti pelukan yang tak kasatmata.
“Jaga kesehatan, yah. Insya Allah Ayah bisa…” ucapnya lembut, seakan meniupkan keberanian ke dalam dadaku.

Wanita itu adalah jangkar hidupku, tegar, sabar, dan selalu hadir, meski badai menghantam bertubi-tubi dalam perjalanan rumah tangga kami yang sederhana.

“Bismillah…” gumamku ketika Aris Handoko menjemputku di depan  pintu menuju pertempuran dua hari itu.

Dan benar saja, ujiannya bukan sekadar uji kompetensi. Ini adalah ujian diriku sendiri. Ujian tentang ketekunan, tentang kesungguhan, tentang keinginan untuk tetap berdiri meski tubuh sesekali meronta. Ujian tentang membuktikan pada dua anakku bahwa ayahnya belum habis, bahwa masih ada bara kecil yang menyala di balik tubuh yang mulai sering lelah.

Setelah dua hari panjang, penuh kecemasan dan doa, tibalah saat yang kunantikan. Dengan suara pelan namun penuh harap, aku bertanya pada Pak Sihono:
“Saya kompeten, Pak?”

Ia tersenyum tipis, menepuk bahuku—sentuhan kecil namun begitu berarti.
“Kompeten. Tapi ke depan lebih fokus, ya. Jawab intinya saja. Yang penting… jaga kesehatan.”

Ucapan itu seperti angin lembut yang merontokkan beban di pundakku. Tanganku sedikit  gemetar ketika membuka WhatsApp. Ada satu orang yang harus mendengar ini lebih dulu.

“Nda… Alhamdulillah Ayah lulus,” ketikku.

Balasan istriku hadir cepat, hangat seperti matahari pagi setelah malam panjang yang dingin.
“Alhamdulillah, Yah… gimana kesehatan?”
Ia selalu begitu, lebih memikirkan keadaanku daripada perayaan hasil, ia wanita yang luar biasa dan selalu ada di saat aku terpuruk.

Mungkin bagi sebagian orang, ini hanyalah capaian kecil. Tapi bagiku, ini adalah kemenangan besar, kemenangan yang lahir dari ketabahan menghadapi tubuh yang tak lagi sekuat dulu, menghadapi penyakit yang kadang datang mendera membuatku lemah lunglai tiada daya, kemenangan di tengah rasa sakit, kemenangan kecil yang terasa seperti menjemput kembali sebagian hidupku yang sempat lepas.

Hari itu aku memahami satu hal:
Menjadi jurnalis bukan hanya tentang menulis berita. Bukan hanya soal kamera, narasumber, atau deadline.

Menjadi jurnalis adalah perjalanan jiwa perjalanan tentang keteguhan, tentang keberanian berdiri ketika banyak alasan untuk rebah, tentang keyakinan bahwa kisah yang kita tulis layak diperjuangkan. “Jurnalis bukan sekadar penulis berita, tapi penjaga nurani di tengah bisingnya dunia.”

Dan hari itu, dengan segala keterbatasan dan doa yang menyertai, aku berhasil menuliskan satu babak penting dalam perjalananku.

Babak tentang keyakinan… dan kemenangan kecil yang terasa sangat besar.

Satu hal yang senantiasa menjadi catatanku di tengah gejolak kehidupan yang tak akan lama lagi akan berakhir, aku ingin menjadi seseorang yang dapat dikenang sebagai pemberi kabar yang akurat dan independen, yang tetap menjaga kredibilitas, keakuratan berita, serta dapat bermanfaat bagi bagi semua orang yang mengenalku.

“Tugas jurnalis adalah melihat dengan hati, menulis dengan jiwa, dan berbicara dengan keberanian.”

Dari sudut kota, perbatasan kelurahan Karang Raja dan Majasari, 21 November 2025.

Rasman Ifhandi

No votes yet.
Please wait...
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *