YOGYAKARTA, LEMBAYUNGNEWS–Di sebuah ruang belajar sederhana di Yogyakarta,-percakapan-percakapan kecil tentang desa perlahan berubah menjadi gagasan, lalu tumbuh menjadi karya jurnalistik yang berdaya.
Di sinilah Sekolah Jurnalisme Desa (SJD) hadir—bukan hanya sebagai ruang pelatihan, tetapi sebagai wadah bagi warga desa untuk mengenali kembali kampungnya melalui sudut pandang yang lebih kritis, sensitif, dan solutif.
SJD dibangun atas kesadaran bahwa suara desa sering kali terpinggirkan dalam pemberitaan arus utama. Padahal, desa menyimpan ribuan cerita: keberhasilan, konflik, kearifan lokal, hingga perubahan sosial yang hampir tak terlihat mata publik. Melalui SJD, cerita-cerita itu diberi ruang untuk ditulis dan dibagikan sebagai bagian dari dokumentasi sejarah desa.
Membangun Perspektif Baru tentang Jurnalisme
Pendekatan yang digunakan SJD berangkat dari konsep Lima Pilar dan Tujuh Tangga Jurnalisme Desa. Metode ini dirancang untuk membantu peserta memahami bahwa karya jurnalistik bukan hanya soal melaporkan kejadian, tetapi juga tanggung jawab sosial untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Lima pilar utama tersebut meliputi:
Desa sebagai objek liputan yang harus diamati secara sensitif.
Wartawan sebagai subjek pembuat karya, bukan sekadar pencatat kejadian.
Karya jurnalistik sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Media sebagai penyampai pesan, bukan sekadar ruang publikasi.
Masyarakat sebagai audiens, penerima manfaat informasi.
“Jurnalisme desa adalah proses merawat ingatan dan persoalan rakyat kecil,” demikian salah satu prinsip yang dikenalkan dalam pelatihan ini.
Belajar Melalui Tujuh Tahapan Praktis
Untuk memastikan setiap peserta mampu menghasilkan karya yang layak tayang, SJD menerapkan tujuh tahapan praktik:
Pembekalan
Perencanaan liputan
Pencarian data dan fakta
Penulisan berita atau feature
Penyuntingan
Publikasi
Tindak lanjut setelah karya tayang
Selama dua hari pelatihan, peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga menerapkan praktik langsung di lapangan. Setiap peserta ditantang menyusun ide, mengamati lingkungan desa, melakukan wawancara, menyusun naskah, hingga mempublikasikan tulisan mereka di media lokal atau daring.
Sudah Digelar Enam Kali, Siap Hadir di Daerah Lain
Hingga kini, Sekolah Jurnalisme Desa telah diselenggarakan enam kali di DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Salah satu pelatihan pertama berlangsung di Padepokan Kilen Lepen, Salamrejo, Sentolo, Kulonprogo, pada Sabtu–Minggu, 12 Maret 2023.
Ke depan, program ini direncanakan diperluas ke berbagai wilayah Indonesia agar semakin banyak warga desa, komunitas pemuda, dan calon jurnalis lokal yang dapat berperan dalam dokumentasi dan penyebaran informasi berbasis desa.
Jejak Pengabdian Seorang Wartawan
Program ini lahir dari pengalaman panjang Sihono HT, pendiri Wiradesa Group—media siber yang konsisten menyuarakan isu-isu desa. Mengelola situs seperti Wiradesa.co, Mandiripangan.com, dan Tunggal.co, ia mendedikasikan lebih dari 30 tahun hidupnya untuk dunia jurnalistik.
Sihono merupakan alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Magister Manajemen Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS). Pengalaman profesionalnya ditempa selama tiga dekade di Kedaulatan Rakyat Group (1990–2020) sebagai wartawan aktif.
Kini, melalui SJD, ia tidak hanya menulis sejarah, tetapi membantu orang lain menuliskannya.
Akhirnya, Jurnalisme dari Akar Rumput
Sekolah Jurnalisme Desa menjadi ruang belajar yang membawa pesan sederhana namun kuat: bahwa suara desa juga layak menjadi berita, menjadi pengetahuan, dan menjadi bagian dari percakapan publik nasional.
Karena pada akhirnya, jurnalisme bukan hanya milik ruang redaksi besar—tetapi juga milik masyarakat desa yang ingin merawat identitas, mengawal perubahan, dan berbagi cerita kepada dunia.
Tentang Penulis
Tentang Penulis:
Sihono HT
Pendiri Wiradesa Group yang mengelola media siber Wiradesa.co, Mandiripangan.com, dan Tunggal.co. Ia merupakan alumni Ilmu Komunikasi UGM (S1) dan Manajemen Komunikasi UNS (S2), serta memiliki pengalaman 30 tahun (1990–2020) sebagai wartawan di Kedaulatan Rakyat Group.
Editor: Rasman Ifhandi













