Jejak Kehidupan di “Chinatown”-nya Prabumulih

  • Bagikan
Listen to this article

Setiap kota punya satu tempat yang diam-diam menyimpan banyak kehidupan. Bagi Prabumulih, tempat itu pernah bernama Stasiun Kereta Api.

PRABUMULIH, Lembayungnews–Bukan sekadar bangunan tua yang dibangun pada kisaran 1915–1917 oleh pemerintah Hindia Belanda. Bukan hanya simpul jalur rel Kertapati–Tanjung Karang dan Muara Enim.

Stasiun Prabumulih pernah menjadi rumah kedua—bahkan bagi sebagian orang, rumah satu-satunya.

Di sinilah suara klakson lokomotif dulu bukan sekadar penanda keberangkatan, melainkan aba-aba rezeki. Setiap derit roda besi di atas rel berarti harapan: nasi hari ini, uang sekolah anak, dan dapur yang bisa tetap mengepul.

Mereka yang Hidup dari Detik Kedatangan Kereta

Pada rentang 1960 hingga awal 2000-an, kawasan stasiun adalah denyut ekonomi rakyat kecil. Tak ada jam kerja resmi. Tak ada gaji bulanan. Patokannya hanya satu: jadwal kereta datang.
Pedagang nasi uduk, penjual lemper telur, bongkol, nasi bungkus, minuman dingin, rokok batangan—semuanya bergerak serempak ketika kereta berhenti.
Para kuli angkut mengencangkan otot.

Pedagang asongan mengatur langkah.

Calo karcis menghafal wajah.
Pengamen mengasah suara.
Di stasiun ini, siapa pun bisa jadi uang, asal mau bergerak.
Tak peduli latar belakang, stasiun menerima semua. Dari pedagang bakso pikul, penjual buah ikatan, hingga mereka yang hidup di tepi-telah: pengemis, gelandangan, bahkan orang-orang yang dianggap “tak waras”.
Semua punya ruang. Semua saling mengenal.

Chinatown-nya Prabumulih

Stasiun Prabumulih kala itu mirip Chinatown kecil.
Ramai, semrawut, berisik, tapi hidup. Di depan stasiun, pedagang nasi uduk berjajar. Di emplasemen, aroma kopi bercampur asap rokok dan keringat manusia.

Tak jauh dari sana, losmen-losmen kelas melati berdiri—murah, sederhana, dan penuh cerita: Kenangan, Rahayu Sentosa, Sederhana, Idaman, Rusmala.
Tak jauh pula Bioskop Palapa, tempat orang-orang mengumpulkan receh demi menonton film laga Mandarin atau drama Indonesia.

Kadang, suara toa mobil promosi bioskop menyatu dengan peluit kereta. Kota terasa kecil, akrab, dan hangat.

Stasiun sebagai “Kantor”

Bagi para pedagang, stasiun bukan tempat singgah. Ia adalah kantor, sawah, dan ladang. Penghasilan memang tak besar. Tapi cukup. Cukup untuk makan hari ini. Cukup untuk membayar seragam sekolah.
Cukup untuk mimpi kecil: anak tak harus hidup seperti orang tuanya.
Tak ada yang berharap kaya. Yang penting ada pemasukan. Ada kepastian bahwa esok masih bisa bertahan.

Ketika Rumah Itu Menjadi Terlalu Bersih

Segalanya berubah ketika aturan datang. Larangan berdagang di dalam dan sekitar kereta diberlakukan. Undang-undang, peraturan pemerintah, instruksi direksi—semuanya sah dan resmi.
Kereta api pun berubah: lebih rapi, lebih aman, lebih nyaman.

Namun, bagi mereka yang hidup dari stasiun, perubahan itu terasa seperti pintu yang ditutup perlahan—tanpa kesempatan mengetuk. Puluhan pedagang menangis. Puluhan lainnya hanya diam.

Stasiun yang dulu begitu ramah, kini terasa asing. Terlalu bersih untuk mereka yang hidup dari receh. Terlalu tertib untuk mereka yang terbiasa berjuang dari kerumunan.

Modernisasi dan Harga yang Harus Dibayar

Tak bisa disangkal, PT KAI telah membawa banyak kemajuan. Penumpang lebih nyaman. Perjalanan lebih aman. Waktu lebih pasti.

Namun seperti mata uang, modernisasi punya dua sisi. Di satu sisi, pelayanan meningkat. Di sisi lain, ruang hidup rakyat kecil menyempit.

Mereka yang dulu menyebut stasiun sebagai rumah kedua, kini hanya bisa memandang dari luar pagar. Tak lagi punya tempat. Tak lagi punya suara.

Tinggal Cerita

Kini, semua itu tinggal kenangan.
Tak ada lagi teriakan pedagang saat kereta berhenti. Tak ada lagi hiruk-pikuk yang saling mengenal. Tak ada lagi “Chinatown”-nya Prabumulih.

Mungkin kelak, rumah-rumah di sekitar rel juga akan hilang. Digusur oleh waktu dan kebijakan. Dan tak ada yang bisa benar-benar melawan, karena mereka tak punya kuasa—selain cerita.

Cerita tentang sebuah stasiun yang pernah menjadi rumah. Tentang orang-orang kecil yang pernah hidup dari suara klakson lokomotif.

Dan tentang rezeki yang kini tinggal gema di rel-rel tua Prabumulih. (Raif)

Editor: Rasman Ifhandi

Catatan: Pembaca dapat mengirimkan kisah atau pengalaman pribadinya pada redaksi kami. Setelah diterima dan dilakukan proses editing akan kami tayangkan dalam Rubrik Khusus Lembayungnews. 

Artikel dapat dikirim melalui email: Lembayungnews@gmail.com

Atau melalui pesan singkat WhatsApp: 082182477853

No votes yet.
Please wait...
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *