Catatan Kecil Menjelang Ramadhan: Sekilas Kisah Soni Alfian

  • Bagikan
Listen to this article

PRABUMULIH, LEMBAYUNGNEWS —
Di sebuah rumah kecil berdinding papan yang mulai lapuk dimakan usia, di simpang Taman Baka, Kelurahan Wonosari, Kota Prabumulih, seorang anak lelaki berusia 15 tahun menjalani hari-harinya dalam sunyi dan perjuangan panjang. Namanya Soni.

Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Namun hidup tak lagi lengkap baginya. Ayah dan ibunya telah lebih dulu pergi menghadap Sang Pencipta beberapa tahun silam. Sejak itu, Soni dan dua adiknya menggantungkan hidup pada seorang perempuan renta yang mereka panggil nenek.

“Emak bapak la ninggal, aku samo adek tinggal dengan nenek bae,” ucapnya lirih saat ditemui tim Lembayungnews beberapa tahun silam.

Tubuhnya kurus, kulitnya pucat kekuningan. Tatapannya redup, namun menyimpan kekuatan yang tak mudah dijelaskan. Senyum tipis sesekali tersungging di wajahnya, seakan ia tak ingin dunia tahu betapa berat beban yang dipikulnya.

Bertahan di Tengah Keterbatasan

Setiap pagi hingga sore, Soni tak pernah benar-benar sendiri. Ia menjaga dua adiknya, Farhan (9) dan Andre (6), sementara sang nenek bekerja sebagai pembantu di sebuah warung makan demi menyambung hidup.

Kakak perempuan mereka kini mondok di pesantren di luar kota. Tinggallah tiga jiwa kecil di rumah sederhana itu, menunggu waktu berlalu dengan harapan yang tak pernah pasti.

Soni tak lagi bersekolah. Kondisi kesehatannya tak memungkinkan. Ia menderita sakit ginjal dan baru saja menjalani operasi usus buntu. Nafsu makannya hampir tak ada.
“Dia gak mau makan, makan juga paling sesendok,” tutur sang nenek dengan mata berkaca-kaca, pada suatu malam saat kami menjenguknya.

Tubuhku lemas melihat Soni terkapar diatas tempat tidur lusuh, wajahnya terlihat pucat dan tak bergairah di sisi sang nenek yang juga terlihat lemah tak berdaya.
“Besok kita berobat nek,” ucapku parau.

Kami tau bagaimana keseharian keluarga Soni, kadang mereka hanya makan seadanya. Kadang hanya cukup untuk hari itu. Namun tak pernah terdengar keluhan keluar dari bibir Soni. Ia menjalani semuanya dengan diam, diam yang menyimpan ketabahan.

Ketukan Hati yang Datang

Kisah Soni sampai ke banyak telinga. Sejak pertama kali mengenal keluarga kecil ini,  banyak dermawan rutin menyalurkan bantuan. Hampir setiap bulan, ada saja tangan-tangan tulus yang mengetuk pintu rumahnya.

Kondisi Soni yang kian melemah belakangan membuat kepedulian itu semakin besar. Pihak RS AR Bunda Prabumulih pun merespons cepat. Atas arahan pimpinan rumah sakit, dr. H. Abdul Rachman, Sp.OG, tim medis datang langsung memberikan bantuan sekaligus menawarkan perawatan.

Suasana rumah kecil itu mendadak hangat oleh perhatian sore itu, Martini, kepala Humas RS AR Bunda menyambangi dan memberikan bantuan pada Soni dan adik-adiknya.
“Semoga lekas sehat ya, Son,” ucap Martini sambil tertunduk haru.

Bantuan juga datang dari UPZ Ishlahul Ummah yang dipimpin Moh. Muaz Ar-Rifqy, putra Ustadz Mat Amin, S.Ag. Beras dan sembako diserahkan langsung kepada sang nenek, Ibu Anila.

Sore itu, diiringi lantunan ayat suci dari masjid terdekat, air mata haru tak terbendung.
“Inilah dunia, Nak. Kita memang dibuat tidak nyaman agar tidak tergila-gila padanya.”

Harapan yang Sederhana

Soni tidak pernah berbicara tentang cita-cita. Ia tak bermimpi tinggi, ia hanya ingin hari ini bisa dilewati, bisa makan, bisa bernapas tanpa rasa sakit, bisa melihat adik-adiknya tersenyum, itu harapan indahnya.

Ramadhan sudah di ambang pintu. Di tengah gemerlap persiapan banyak keluarga, ada seorang anak yatim piatu yang masih berjuang melawan sakit dan kenyataan hidup yang tak ramah.

Namun Soni bukan sekadar kisah pilu. Ia adalah cermin tentang ketabahan. Tentang bagaimana seorang anak kecil mampu berdiri di tengah badai, meski tanpa payung perlindungan orang tua.

Semoga Allah mengangkat derajatmu, ananda Soni Alfian.

Bagi para dermawan yang ingin membantu Soni dan keluarganya, dapat menghubungi redaksi Lembayungnews. Kami siap memfasilitasi pertemuan langsung agar bantuan tepat sasaran.
Mari bersama mengetuk pintu hati.

Karena di tengah kemewahan hidup sebagian dari kita, masih ada anak-anak seperti Soni — yang berjuang bukan untuk masa depan, tetapi untuk sekadar bertahan hari ini.

Editor: Rasman Ifhandi
Lembayungnews

Bagi yang memiliki kisah nyata atau artikel yang ingin dipublikasikan di website kami, silakan kirim melalui email: Lembayungnews@gmail.com
Atau WhatsApp: 082182477853.

No votes yet.
Please wait...
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *