PRABUMULIH. LEMBAYUNGNEWS. TJSL adalah singkatan dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, yang juga dikenal sebagai Corporate Social Responsibility (CSR).
Ini adalah konsep dimana perusahaan memiliki tanggung jawab terhadap pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, lingkungan, dan pemegang saham, dalam segala aspek operasional mereka.
Dalam konteks Badan Usaha Milik Negara (BUMN), TJSL diatur dalam Peraturan Menteri BUMN dan merupakan bagian dari komitmen mereka terhadap pembangunan berkelanjutan.
TJSL sebagai komitmen BUMN:
BUMN memiliki kewajiban untuk menjalankan TJSL, yang diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan.
Tujuan TJSL:
TJSL bertujuan untuk memberikan manfaat bagi pembangunan ekonomi, sosial, lingkungan, hukum, dan tata kelola.
Banyak lterjadi lahan perkebunan masyarakat yang terkena dampak dari operasional perusahaan sehingga menyebabkan lahan warga tercemari oleh limbah.
Baru-baru ini terjadi di desa Kasih Dewa Kecamatan Rambang Niru Kabupaten Muara Enim beberapa warga mengeluhkan ceceran limbah yang mengalir ke kebun mereka.
Dalam sebuah video yang sempat ramai di medsos, seorang warga mengeluhkan kondisi kebunnya yang terkena limbah ceceran minyak mentah yang berasal dari pipa Pertamina.
“Tolong Pertamina, masyarakat sangat kerugian, sampai sekarang humas nya belum ada yang meninjau, sudah hampir sebulan setengah ini,” kata seseorang dalam video tersebut yang belakangan diketahui bernama Angga sang pemilik kebun.
Dia juga meminta Bupati Muara Enim agar membantunya perihal pencemaran lahan dan kebun ini. “Tolong pak Bupati tinjau kami ini masyarakat,” katanya lagi dalam video yang berdurasi 52 detik itu.
Kami coba melakukan investigasi ke lapangan dan benar adanya terlihat kebun warga yang tergenang oleh limbah Crude Oil yang diduga berasal dari jalur pipa Pertamina.
Hal ini langsung kami konfirmasi ke pihak Management perusahaan (Pertamina), Head Of Comrel & CID Zona 4 Ivan Andra Sebayang yang membenarkan adanya aliran limbah itu.
“Memang ada kebocoran beberapa bulan lalu tapi cuma sedikit, dia (pemilik kebun) minta ganti rugi yang tak masuk akal. Saat mau dibersihkan disetop oleh warga yang ada dalam video itu,” ujar Ivan Sebayang dalam sebuah percakapan via pesan WhatsApp.
Masih kata Ivan, “Kalau kebocoran yang di video itu, tentunya dilanjutkan dengan pembersihan tapi dihalang-halangi oleh dia,” ungkap Ivan.
Ivan juga menambahkan, saat ada kebocoran berbarengan dengan sungai yang meluap karena banjir sehingga ceceran minyak ikut mengalir ke kebun warga.
Untuk pipa yang bocor sudah dilakukan penanganan oleh perusahaan dengan di clamp.
Saat media ini dan tim meninjau ke lokasi, terlihat dari pihak perusahaan telah mengerahkan crew untuk membersihkan limbah yang berceceran tersebut dan mulai diangkut menggunakan truk.
Menurut keterangan pemilik kebun bahwa ceceran limbah minyak mentah ini sudah lama menggenang di area kebunnya dan sudah pula dilaporkan ke pihak humas Pertamina.
“Sudah lama menggenang dan kami pun sudah melapor agar segera ditindak lanjuti,” ujar. Angga sang pemilik kebun saat kami konfirmasi.
Dia juga menambahkan bahwa hari ini pihak Pertamina mulai membersihkan limbah tersebut dengan mengerahkan masyarakat sekitar dan beberapa pegawai Pertamina. Senin 5/5/2025.
Terlihat pihak perusahaan tengah melakukan pembersihan ceceran limbah bersama warga. Kasih Dewa 5 Mei 2025.
“Hari ini pihak Pertamina melakukan pembersihan limbah, dengan mempekerjakan warga sekitar dan juga dari pihak Pertamina itu sendiri,” ungkap Angga saat ditemui di lokasi kejadian.
Angga juga berharap pihak perusahaan bukan cuma membersihkan limbah yang ada, tetapi juga bertanggung jawab atas kondisi kebun dan tanah yang sudah tercemar ini.
“Tentu ada dampaknya terhadap lahan kami, itu yang kami pertanyakan kepada pihak perusahaan apakah cukup hanya dibersihkan limbahnya saja lalu tidak ada kelanjutannya atau bagaimana,” tegas Angga.
Masih kata pemilik kebun ini, “Tanggung jawab Pertamina itu yang kami harapkan, ada beberapa pohon karet yang mati, dan yang pasti kondisi tanah kami tidak lagi sehat untuk ditanami,” jelasnya.
Sampai berita ini diterbitkan belum ada informasi lanjut dari pemilik kebun maupun pihak perusahaan terkait persoalan ini. (Raif)
Editor: Rasman Ifhandi













