PRABUMULIH, Lembayungnews. —Api flare itu dulu hanya jadi tontonan anak-anak kampung minyak di Prabumulih. Menyala siang malam dengan suara mendesis keras di kejauhan. Tidak ada yang menyangka, puluhan tahun kemudian, gas dari perut bumi itu benar-benar mengalir hingga ke dapur rumah warga.
Suara mesin rig, kendaraan operasional yang hilir mudik, hingga nyala api di area migas menjadi pemandangan yang akrab bagi warga. Namun di balik itu semua, ada dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
Saat aktivitas pengeboran sedang ramai, banyak perusahaan migas membuka kesempatan kerja bagi warga lokal. Tidak sedikit masyarakat yang direkrut menjadi pekerja lapangan, tenaga keamanan, sopir, teknisi, hingga pekerja harian di lokasi operasional.
Kehadiran industri migas juga memunculkan peluang usaha baru bagi masyarakat kecil. Warung kopi di sekitar area kerja mulai ramai dipenuhi pekerja. Rumah makan sederhana mendapatkan pelanggan tetap. Bahkan usaha catering lokal ikut berkembang karena tingginya kebutuhan konsumsi di lokasi pengeboran.
Perputaran Ekonomi Masyarakat Perlahan Ikut Bergerak.
Warga yang sebelumnya hanya mengandalkan pekerjaan serabutan mulai memperoleh tambahan penghasilan. Pemilik rumah kontrakan mendapatkan penyewa dari kalangan pekerja migas. Bengkel kendaraan hingga toko kebutuhan harian ikut menikmati dampak dari meningkatnya aktivitas industri tersebut.
Inilah yang kemudian dikenal sebagai efek berganda atau multiplier effect dari sektor hulu migas.
Tidak hanya berdampak pada ekonomi, geliat industri migas juga mendorong tumbuhnya berbagai program pemberdayaan masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan kelompok usaha masyarakat seperti KWT yang ikut mendorong ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi warga.
Salah satu KWT yang dianggap telah berkembang dan mendapat perhatian di kota Prabumulih yakni KWT Kemuning yang berada di Kelurahan Patih Galung, Prabumulih Barat.
Kelompok wanita tani yang berjumlah 30 orang itu banyak mendapat sorotan karena keberhasilannya menanam bawang di tanah yang kering, dengan bantuan dari pemerintah kota dan perusahaan Pertamina Prabumulih Field, Ibu Tri Ningsih berhasil membuktikan bahwa dengan kegigihan dan kesabaran semua akan membuahkan hasil maksimal.
Awalnya mereka menanam Kangkung, dan Terong dengan lahan seadanya dan dengan basis pengetahuan yang minim tentang pertanian. Namun, mereka dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah meski saat itu belum dapat memuaskan para anggota tetapi langkah awal mereka dianggap berhasil.
“Saat itu kami tanam Terong organik, karena terbilang mudah mengolahnya dan harganya juga saat itu kisaran 8 ribu rupiah perkilo,” terang Ibu Ketua KWT.
Masih kata Tri Ningsih, “Karena pupuknya juga kami buat sendiri, jadi modalnya juga tidak terlalu besar,” jelasnya.
Setelah rencana awal itu berjalan sesuai dengan harapan, akhirnya kelompok tani Kemuning mendapat dukungan dari pemerintah berupa bantuan bibit sayuran, tandon air, dan peralatan pertanian lainnya yang nominalnya sebesar lima puluh juta rupiah.
“Kami tak pernah menyangka, tanah yang dulu kering dapat menjadi sumber penghasilan tambahan buat keluarga kami,” ungkapnya sumringah.
Bukan hanya itu, melihat antusias para ibu-ibu ini akhirnya ada warga yang bersedia meminjamkan lahannya yang cukup luas untuk dapat dijadikan tempat mereka mengembangkan dan mewujudkan harapan sebagai petani wanita yang sukses.
Setelah mendapat bantuan pemerintah, semua kegiatan pertanian makin intens berjalan meski hanya secara otodidak. Lalu pada tahun 2021 KWT Kemuning ini rupanya mendapat perhatian dari PT Pertamina (persero) Prabumulih Field setelah melalui proses mapping dan beberapa kali kunjungan ke KWT Kemuning.
“Kami pun mendapat perhatian dari Pertamina serta mulai diberikan bantuan baik materi dan pelatihan-pelatihan,” terang Ibu Tri.
Dengan program CSR-nya Pertamina memberikan bantuan pembangunan infrastruktur tempat berkumpul para anggota, juga membuat instalasi pengolahan air hujan (IPAH) untuk keperluan mengurus tanaman.
Selain itu juga dilakukan pembangunan biopori di pekarangan rumah masyarakat serta pembangunan energi baru terbarukan (EBT) melalui sistem PLTS dengan kapasitas 3000 watt yang kesemuanya ditujukan untuk menunjang kegiatan pertanian oleh kelompok wanita tani Kemuning.
Selain itu juga dengan bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemerintah Kota Prabumulih, Pertamina juga memberikan edukasi cara membuat pupuk organik cair (Eco Enzim) dan pengolahan tanah.
Bahkan Pertamina juga mendatangkan narasumber dari Universitas Indonesia (UI) yang memberikan pelatihan selama 4 hari berbagi pengetahuan secara teori, baik pengetahuan bagaimana cara membuat jamu herbal serta cara membuat kemasannya agar menarik, atau juga cara mengolah tanah agar terjaga kesuburannya lalu dilanjutkan dengan pengetahuan secara praktek selama kurang lebih satu setengah tahun lamanya.
Berangkat dari program pemerintah dan CSR Pertamina, kelompok wanita tani Kemuning mulai bergerak maju dari yang sebelumnya hanya berjalan secara sederhana.
Mimpi Warga Kota, Tentang Gas dari Line Flaring Sampai ke Dapur
Perubahan lain yang kini dirasakan masyarakat adalah hadirnya jaringan gas rumah tangga atau jargas.
Bagi sebagian warga, jargas menjadi solusi atas persoalan yang selama ini sering dihadapi masyarakat, terutama saat sulit mendapatkan gas elpiji.
Dulu, anak-anak kecil kampung minyak rela berjalan jauh hanya untuk melihat “Api Abadi” gas flaring yang menyala terus-menerus dengan suara mendesis yang memekakkan telinga. Api yang berkobar dan dapat menerangi jalanan dekat perkampungan itu seakan menjadi teman bermain kala itu.
Mereka bertanya-tanya, bagaimana jika api itu bisa dimanfaatkan di rumah, sehingga kebiasaan mencari kayu bakar di hutan kecil dekat perkampungan atau mengumpulkan bongkahan arang di dekat stasiun kereta api tidak lagi mereka lakukan.
Harapan yang saat itu laksana mimpi berkepanjangan dan tak akan pernah terwujud, “Mustahil” itu yang terbersit dalam benak mereka.
Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2012 hingga 2019, infrastruktur jaringan gas rumah tangga (jargas) mulai dibangun di kota Prabumulih, dengan total sebanyak 42.668 sambungan rumah (SR) atau menjangkau 86 persen penduduk. Kehadiran jargas ini membuat Prabumulih dijuluki “City Gas” karena memiliki SR terbanyak di Sumatera Selatan.
Waktu terus berjalan, teknologi terus berkembang, dari program strategis nasional yang dilaksanakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Ditjen Migas, akhirnya Api Abadi itu kini sampai ke dapur-dapur masyarakat kota Prabumulih.
“Dulu sebelum ada jaringan gas rumah tangga, kami kadang kesulitan mencari tabung gas. Bahkan sering kehabisan saat sedang dibutuhkan, terutama ketika dagangan sedang ramai. Sekarang, sejak ada jargas, kami tidak takut lagi kehabisan gas,” ujar Marlina, salah seorang warga yang membuka warung kopi kecil di kelurahan Karang Raja Prabumulih Timur.
Bagi pelaku usaha kecil seperti pedagang makanan, kondisi tersebut tentu sangat membantu. Aktivitas usaha menjadi lebih lancar tanpa rasa khawatir kehabisan bahan bakar untuk memasak.
Gas bumi yang dahulu hanya terlihat di kawasan industri kini sudah mengalir ke rumah-rumah warga melalui jaringan gas rumah tangga.
Kehadirannya bukan hanya memberikan kemudahan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemanfaatan energi yang lebih bersih dan efisien.
Berbagai langkah juga terus dilakukan PT Pertamina dalam mendukung pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi sekaligus mendukung target produksi migas nasional.
Bagi masyarakat Prabumulih, industri migas bukan sekadar soal sumur minyak ataupun proyek energi. Lebih dari itu, migas telah menghadirkan lapangan pekerjaan, menghidupkan UMKM, membantu usaha kecil bertahan, hingga menghadirkan energi langsung ke dapur masyarakat.
Dulu api flare hanya terlihat dari kejauhan, menyala di tengah gelap malam kampung minyak. Kini, api yang sama telah hadir di tungku-tungku dapur warga Prabumulih, mengubah mimpi masa kecil menjadi kenyataan.
Dari Kelompok Wanita Tani, hingga jaringan gas rumah tangga, semua menjadi bukti bahwa sektor hulu migas memiliki dampak luas dan efek berganda yang positif bagi kehidupan masyarakat sekitar. (Raif)
Editor: Rasman Ifhandi











