Mimi baru berusia sembilan tahun ketika dunia yang dikenalnya runtuh. Perceraian kedua orang tuanya bukan hanya memisahkan sebuah keluarga, tetapi juga merenggut masa kecil yang seharusnya dipenuhi tawa.
Sejak hari itu, Mimi hidup berpindah-pindah di antara dua rumah yang sama-sama tak lagi terasa sebagai rumah.
Di rumah ayahnya, ia tinggal bersama ibu tiri dan dua adik tirinya. Ayah yang dulu menggendongnya kini lebih banyak membela keluarga barunya. Suatu siang, ketika perutnya menjerit karena lapar, ibu tirinya sengaja tidak memberinya makan.
“Ayah… Mimi lapar…”
Ayah hanya menoleh sekilas, lalu kembali menikmati makan siangnya bersama keluarga barunya.
Tidak ada sepiring nasi untuk Mimi.
Dengan langkah kecil dan mata sembab, ia berjalan menuju rumah ibunya, berharap menemukan pelukan yang selama ini dirindukannya.
Namun harapan itu kembali pupus.
Ibunya yang telah menikah lagi juga telah memiliki anak dari suami barunya. Kehadiran Mimi seolah hanya menjadi tamu yang tidak diharapkan.
“Makan di rumah ayahmu saja,” ucap ibunya singkat.
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada rasa lapar yang sejak tadi menggerogoti perutnya.
Hari itu Mimi belajar bahwa menjadi anak dari orang tua yang bercerai terkadang berarti harus belajar kuat jauh sebelum waktunya.
Sejak saat itu ia terbiasa menangis tanpa suara. Air mata menjadi teman tidurnya, sedangkan kesunyian menjadi sahabat yang tak pernah meninggalkannya.
Waktu berlalu.
Mimi tumbuh menjadi gadis sederhana yang pendiam. Di balik senyumnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dalam hati kecilnya ia hanya memiliki satu impian.
“Kalau aku sudah besar, aku ingin menikah. Aku ingin punya rumah sendiri. Aku ingin ada seseorang yang benar-benar menyayangiku.”
Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta.
Pernikahan adalah harapan untuk memiliki keluarga yang tak pernah ia rasakan.
Saat berusia empat belas tahun, Tuhan seolah mengirimkan setitik cahaya.
Namanya Wawan.
Mereka berkenalan secara sederhana, tetapi perhatian Wawan mampu menghangatkan hati Mimi yang telah lama membeku. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang mendengarkan ceritanya tanpa menghakimi.
Di dekat Wawan, Mimi bisa tertawa lepas.
Ia mulai percaya bahwa hidup ternyata masih menyimpan kebahagiaan.
Tahun demi tahun berlalu. Cinta mereka tumbuh bersama kedewasaan. Kedua keluarga telah mengetahui hubungan mereka. Hari pernikahan pun mulai direncanakan.
Mimi menjahit sendiri sebagian perlengkapan yang akan dikenakannya. Sedikit demi sedikit ia menabung. Setiap malam ia membayangkan akan memiliki rumah kecil yang dipenuhi kasih sayang.
Ia yakin, semua penderitaan masa kecilnya akan berakhir.
Namun takdir kembali menuliskan kisah yang berbeda.
Beberapa hari menjelang hari bahagia itu, keluarga besar memutuskan membatalkan pernikahan Mimi dan Wawan.
Alasannya begitu menyakitkan.
Kakak sulung Wawan telah menghamili sepupu Mimi. Demi menutup aib keluarga, seluruh persiapan pernikahan Mimi dialihkan kepada sepupunya.
Gaun yang dipersiapkan untuk dirinya.
Peralatan dapur yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit.
Undangan.
Semua menjadi milik orang lain.
Mimi hanya duduk memeluk lutut di sudut kamar. Air matanya tak lagi mampu mengalir deras. Luka yang terlalu dalam justru membuatnya membeku.
Hari itu bukan hanya pernikahannya yang batal.
Harapan terakhirnya untuk memiliki keluarga yang utuh juga ikut terkubur.
Tak lama kemudian, Wawan menghilang tanpa kabar.
Tak sanggup terus hidup di kota yang menyimpan begitu banyak kenangan, Mimi memutuskan merantau ke Jakarta. Ia bekerja di sebuah perusahaan dengan satu tujuan: melupakan masa lalu.
Namun ia segera menyadari, sejauh apa pun seseorang pergi, luka yang belum sembuh akan selalu ikut berjalan bersamanya.
Jakarta menjadi saksi bagaimana Mimi berusaha mengubur luka pertamanya. Namun, takdir kembali mempertemukannya dengan kenyataan yang tak pernah ia inginkan.
Sepulang dari perantauan, keluarga menjodohkannya dengan seorang pria bernama Eman. Mimi tidak lagi memiliki tenaga untuk melawan. Baginya, mungkin inilah jalan yang telah digariskan. Ia berharap pernikahan itu menjadi pelabuhan terakhir setelah bertahun-tahun dihantam ombak kehidupan.
Dari pernikahan itu lahirlah dua orang anak, seorang putra dan seorang putri. Kedua anak itulah alasan Mimi tetap bertahan. Setiap kali air matanya jatuh, ia akan memeluk mereka dan berjanji dalam hati bahwa anak-anaknya tidak akan pernah merasakan luka seperti yang pernah ia rasakan.
Namun, harapan itu kembali patah.
Rumah tangga yang dibangunnya perlahan retak. Eman berubah. Ia semakin sering pulang larut malam, semakin dingin, dan semakin jauh. Sampai akhirnya sebuah kenyataan yang begitu menyakitkan terungkap. Pria yang ia sebut suami ternyata menjalin hubungan terlarang dengan ibu kandungnya sendiri.
Dunia Mimi seolah runtuh untuk kesekian kalinya.
Ia tak mampu memahami bagaimana dua orang yang paling seharusnya melindunginya justru menjadi penyebab luka terdalam dalam hidupnya. Tidak ada kata yang sanggup menggambarkan hancurnya hati seorang anak sekaligus seorang istri yang dikhianati dalam waktu yang bersamaan.
Malam-malamnya dipenuhi tangis yang ia sembunyikan dari kedua buah hatinya. Di hadapan mereka ia tersenyum, tetapi setiap sepertiga malam ia memohon kepada Tuhan agar diberi kekuatan untuk tetap hidup.
Akhirnya Mimi mengambil keputusan paling berat dalam hidupnya. Demi masa depan anak-anak, ia merantau menjadi tenaga kerja di salah satu negara di Asia.
Negeri asing mengajarinya arti bertahan hidup.
Ia bekerja sejak matahari belum terbit hingga larut malam. Tangan yang dulu lembut kini dipenuhi kapalan. Bahunya sering pegal, tubuhnya letih, tetapi setiap kali menerima gaji, ia teringat wajah putra dan putrinya.
“Itulah alasan aku harus tetap hidup,” gumamnya.
Tahun demi tahun berlalu. Perlahan keadaan ekonominya membaik. Ia mampu membiayai sekolah anak-anaknya, membangun rumah sederhana, bahkan mulai merasakan hidup yang sedikit lebih tenang.
Di saat itulah Tuhan mempertemukannya dengan Adi, seorang duda yang tampak bijaksana. Berbeda dengan lelaki-lelaki yang pernah hadir dalam hidupnya, Adi datang membawa perhatian dan kata-kata yang menenangkan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mimi memberanikan diri membuka pintu hatinya.
Ia menerima Adi bukan hanya dengan cinta, tetapi juga dengan pengorbanan. Mimi membantu kehidupan Adi, memperlakukan anak-anak Adi seperti darah dagingnya sendiri, bahkan rela mengesampingkan kebahagiaannya agar keluarga baru itu tetap utuh.
Namun, luka rupanya belum selesai mengejarnya.
Adi berubah. Lelaki yang dulu berjanji akan menjaga hatinya justru mengkhianati kepercayaannya. Pengorbanan yang bertahun-tahun diberikan seolah tidak pernah berarti. Sekali lagi Mimi berdiri di depan reruntuhan harapan yang ia bangun dengan susah payah.
Di usianya yang tak lagi muda, rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya. Keriput tipis muncul di wajah yang sejak kecil terlalu akrab dengan air mata.
Suatu malam ia duduk sendirian di beranda rumah. Angin berembus pelan, sementara langit dipenuhi bintang yang berkilauan.
Dengan mata yang basah ia menengadah.
“Ya Allah… apakah masih ada sedikit kebahagiaan yang Engkau simpan untukku di dunia ini?”
“Apa aku memang ditakdirkan hanya untuk membahagiakan orang lain, sementara hidupku sendiri habis terbakar seperti kayu yang tinggal menjadi arang?”
Tidak ada jawaban yang terdengar.
Yang ada hanyalah desir angin yang menyentuh pipinya, seolah mengusap air mata yang telah terlalu lama mengalir.
Di saat itulah Mimi menyadari sesuatu.
Mungkin kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk pasangan yang setia. Mungkin kebahagiaan itu selama ini tumbuh dari dua anak yang berhasil ia besarkan menjadi manusia baik, dari setiap doa yang masih mampu ia panjatkan, dan dari kenyataan bahwa meski berkali-kali dihancurkan, ia tidak pernah berubah menjadi orang yang membenci.
Arang memang tampak hitam dan tak berharga.
Namun arang masih menyimpan bara.
Dan bara sekecil apa pun masih mampu menyalakan api kehidupan.
Mimi menutup matanya perlahan. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi meminta hidup tanpa ujian. Ia hanya meminta hati yang cukup kuat untuk menerima apa pun yang telah Tuhan tetapkan.
Karena ia percaya, jika kebahagiaan belum sempat menghampirinya di dunia, maka tidak ada air mata seorang hamba yang akan sia-sia di hadapan Tuhan. Setiap luka yang dijalani dengan sabar akan menemukan balasannya pada waktu yang paling sempurna, meski mungkin bukan di dunia yang sementara ini.
Kisah hidup seorang sahabat jauh.
Ditulis oleh: Raif73







