Berkali-kali Terjadi Kebocoran Pipa, Pegiat Lingkungan Hidup Sampai Walikota Menyayangkan Kejadian ini

PRABUMULIH. Lembayungnews. Setelah heboh kejadian pipa Pertamina bocor yang mengakibatkan tercemarnya sungai Kelekar di 6 Kelurahan dan 1 Desa. Pihak Pertamina melakukan pertemuan dengan warga terdampak dan unsur pemerintah kota Prabumulih yang dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup, Camat dan Lurah.

Mediasi yang dihadiri langsung oleh Officer Comrel Zona 4 Erwin Hendra Putra
Head Of Comrel & Cid Zona 4 Tuti Dwi Patmayanti, dilaksanakan di Aula Gedung Islamic Center Kota Prabumulih, Senin (10/07/2023).

Dalam keterangannya Kepala Dinas Lingkungan Hidup menyampaikan bahwa akibat insiden kemarin menyebabkan 6 Kelurahan dan 1 Desa terkena imbasnya.

“Ada 6 Kelurahan dan 1 Desa yang terdampak langsung, Yakni ; Kelurahan Majasari, Karang Raja, Tugu Kecil, Muara 2, Gunung Ibul, Sindur dan Desa Pangkul. Kami di sini hanya memfasilitasi mediasi antara warga dan perusahaan untuk mencari titik temu,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Prabumulih ir Hj Dwi Quryana.

Head Of Comrel & Cid Zona 4, Tuti Dwi Patmayanti mengatakan pihaknya sedang melakukan identifikasi langkah apa yang akan diambil kedepannya.

“Untuk saat ini kita mengindentifikasi dampak maupun upaya yang bakal di ambil. Dan hasil dari mediasi ini akan kita laporkan terlebih dahulu ke pihak Manajemen atau atasan kami,” kata Head Of Comrel & Cid Zona 4 Tuti Dwi Patmayanti, yang di dampingi Officer Comrel Zona 4 Erwin Hendra Putra.

Wali kota Prabumulih Ir H Ridho Yahya MM menanggapi serius pencemaran Sungai Kelekar akibat pencemaran tumpahan minyak dari pipa bocor PT Pertamina EP Hulu Rokan Zona 4.

Orang nomor satu di Bumi Seinggok Sepemunyian itu menegaskan dirinya akan melayangkan surat ke Pertamina pusat dan juga SKK Migas terkait kejadian tersebut.

“Kami akan layangkan surat, karena jangan sampai nanti pusat (pertamina pusat) malah tidak tahu kejadian ini (minyak cemari sungai kelekar) karena takutnya nanti, berdampak lebih luas seperti blowout (semburan liar pada sumur minyak) seperti kemaren (2013-red di Prabumulih),” ungkap Ridho Yahya ketika diwawancarai di ruang kerjanya, Senin (10/7/2023).

Ridho menuturkan, selain melayangkan surat ke pertamina pusat, pihaknya juga melalui dinas terkait akan melakukan pemantauan selama 24 jam bagaimana perkembangan penanganan insiden tersebut.

Lurah Majasari Susi Windasari SKM yang juga ikut dalam pertemuan tersebut menyayangkan insiden yang telah terjadi berulang-ulang ini.

“Kami selaku warga Majasari menyayangkan telah terjadi insiden yang bukan hanya sekali ini. Perlu diketahui bahwa kami selaku warga sering melakukan pembersihan di jalur pipa pertamina yang terkesan kurang perawatan,” ungkapnya.

“Selama 2 tahun terakhir ini belum pernah saya lihat dari pihak pertamina langsung atau pihak ketiga yang melakukan pembersihan jalur pipa yang ada di Majasari. Jadi kami berinisiatif melakukan pembersihan sendiri,” tambah Susi lagi.

Salah seorang pegiat lingkungan hidup, Aris Handoko warga Kelurahan Karang Raja turut memberikan komentar atas insiden yang terbilang menghebohkan ini.

Aris menyampaikan terkait pembersihan Sungai Kelekar hendaknya bukan hanya fokus mengangkat endapan crude oil yang masih menggenang di permukaan air, akan tetapi rumput yang berada di bantaran bibir sungai jelas harus diangkat karena telah terpapar Limbah B3.

“Bukan hanya penyetopan dengan pengelasan klem pipa yang korosi akan tetapi pembersihan pasca kebocoran pipa penanganan limbah B3 yang terkandung di dalam ekosistem biota air sungai justru harus menjadi konsen pihak pertamina, semua rumput dan tanah lumpur di bibir sungai yang sudah terkontaminasi oleh paparan bahan beracun dan berbahaya harus di angkat dari dalam sungai,” tegas jurnalis lingkungan ini.

Ditambahkan pula oleh anggota Pemuda Pancasila Kota Prabumulih ini yang juga  aktif di berbagai ormas, dengan kejadian ini kiranya pertamina dapat mengambil hikmahnya dan melakukan evaluasi.

“Dengan kejadian ini sudah saatnya pertamina Peduli dengan ekosistem sungai kelekar, bukan hanya konsen pada peningkatan target produksi migas untuk keuntungan semata tanpa memikirkan peningkatan pada aspek lingkungan yang lestari,“ pungkasnya. (Raif)

Editor : Rasman Ifhandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *