PRABUMULIH, Lembayungnews — Di tengah pesatnya perkembangan Kota Prabumulih sebagai daerah penyangga energi dan perdagangan, terdapat jejak sejarah panjang peradaban Islam yang masih berdiri kokoh hingga kini.
Salah satunya adalah Masjid Al-Hidayah yang berdiri sejak tahun 1918, menjadikannya sebagai masjid tertua yang tercatat di Kota Prabumulih.
Berlokasi di Kelurahan Prabumulih, Kecamatan Prabumulih Barat, masjid ini telah menjadi saksi perjalanan zaman — mulai dari era kolonial, masa kemerdekaan, hingga perkembangan kota modern seperti sekarang.
Warisan Spiritualitas Lebih dari Satu Abad
Didirikan lebih dari 100 tahun lalu, Masjid Al-Hidayah bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan Al-Qur’an, serta ruang musyawarah masyarakat sejak generasi terdahulu.
Bangunan awalnya diketahui masih menggunakan konstruksi sederhana khas arsitektur lama Sumatera Selatan, dengan dominasi kayu dan atap tradisional. Meski telah mengalami beberapa kali renovasi, nilai historisnya tetap terjaga.
Keberadaan masjid ini menunjukkan bahwa penyebaran Islam di wilayah Prabumulih telah berkembang jauh sebelum kota ini resmi menjadi daerah otonom.
Saksi Perubahan Zaman
Tokoh masyarakat setempat menyebut, Masjid Al-Hidayah dahulu menjadi pusat pengajian dan tempat berkumpulnya ulama serta tokoh adat. Pada masa perjuangan kemerdekaan, masjid juga menjadi ruang konsolidasi warga.
“Masjid ini bukan hanya tempat salat, tapi simbol persatuan dan keteguhan masyarakat sejak dulu,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.
Masjid-Masjid Tua Lainnya
Selain Masjid Al-Hidayah (1918), beberapa masjid tua lainnya di Prabumulih juga memiliki nilai sejarah tinggi, di antaranya:
Masjid Tijanul Islam (1940) – Dusun Tanjung Telang
Masjid Baiturrahman (1943) – Payuputat
Masjid Darussalam (1948) – Muntang Tapus
Masjid An-Nuqoba (1949) – Pasar I
Keberadaan masjid-masjid ini memperkuat identitas Prabumulih sebagai kota yang memiliki akar religius kuat sejak awal abad ke-20. Menjaga Warisan, Merawat Peradaban. Di tengah modernisasi, pelestarian masjid-masjid tua menjadi tanggung jawab bersama.
Selain sebagai tempat ibadah, bangunan bersejarah ini merupakan arsip hidup perjalanan sosial dan spiritual masyarakat.
Masjid Al-Hidayah hari ini masih aktif digunakan untuk salat berjamaah dan kegiatan keagamaan. Lebih dari satu abad berdiri, ia tetap menjadi simbol cahaya petunjuk — sebagaimana namanya, Al-Hidayah. (Raif)
Editor: Rasman Ifhandi



